Home news Saya Lihat Orang Tewas Berserakan , Aping Wijaya Ungkap Kengerian Jum\'at Kelabu 23 Mei 1997 di Banjarmasin

Saya Lihat Orang Tewas Berserakan , Aping Wijaya Ungkap Kengerian Jum\'at Kelabu 23 Mei 1997 di Banjarmasin

Saya Lihat Orang Tewas Berserakan , Aping Wijaya Ungkap Kengerian Jum\\

151
0
SHARE
Saya Lihat Orang Tewas Berserakan , Aping Wijaya Ungkap Kengerian Jum\

BERITAPOPULER.ONLINE BANJARMASIN, KALSEL – Dua puluh delapan tahun telah berlalu, namun ingatan tentang kerusuhan 23 Mei 1997 di Banjarmasin tetap membekas bagi warga kota ini. 

Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Tragedi Jumat Kelabu” itu menelan sedikitnya 123 korban jiwa, melukai 118 orang, dan membuat 179 orang dinyatakan hilang.

Salah satu yang menyaksikan langsung detik-detik awal kerusuhan adalah Aping Wijaya, wartawan senior Banjarmasin yang saat itu bertugas meliput kampanye terakhir Pemilu 1997.

“Saya berada di kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin saat arak-arakan kampanye Golkar lewat. 

Suasana salat Jumat sedang berlangsung, tapi suara knalpot dan teriakan massa dari rombongan kampanye memecah keheningan,” kenang Aping, Jumat 22 Mei 2025.

Menurut Aping, ketegangan langsung terasa. Jamaah yang terganggu mulai beradu mulut dengan simpatisan partai.

Foto By : Aping Wijaya 

Dalam hitungan menit, situasi berubah jadi bentrokan. Massa menyerbu ke arah kantor DPD Golkar dengan senjata tajam seperti celurit dan mandau.

“Setelah itu seperti bola salju. Massa bergerak ke pusat kota. Mitra Plaza, Pasar Sentra Antasari, Junjung Buih Plaza dibakar dan dijarah.

Foto By : Aping Wijaya 

Listrik padam, kota gelap gulita, hanya nyala api yang menerangi jalan,” ujar Aping.

Data Komnas HAM dan YLBHI mencatat ratusan bangunan hangus, termasuk ruko, sebuah gereja Katolik, bank, dan hotel.

Foto By : Aping Wijaya

Proses evakuasi korban terhambat karena api masih menyala hingga Sabtu pagi di kompleks Plaza Mitra. Bau sangit tercium hingga keluar gedung.

Aping menyebut peristiwa itu bukan sekadar kerusuhan biasa. 

“Ini cerminan ketegangan politik, sosial, dan agama yang selama Orde Baru ditekan. Jumat Kelabu membuka mata kita bahwa luka itu nyata dan harus diingat,” katanya.

Hingga kini, 23 Mei diperingati sebagai catatan kelam demokrasi di pengujung Orde Baru. Pemerintah dan tokoh masyarakat Kalsel rutin menggelar doa bersama untuk mengenang para korban.

Editor : Mega